Andalan

Anak Rantau

AnaK rantau? Hem plis jagan meremehkan anak yang sedang merantau. Memang mereka anak yang sedang “terasing” tapi mereka menggenggam mimpi. Seisi bumi bisa saja membenci mereka tapi tidak akan mengendorkan sedikitpun kekuatan mereka untuk menggenggam dunia. Memang dalam perantauan selalu ada rintangan, cacian dan makian dari mereka yang mengaggap mereka anak rantau itu asing.

Penulis merasakan bahwa di tanah rantau pernah diremehkan. Saat melakukan kebaikan ada saja mata yang melihat keburukan lalu mengungkapkan tanpa melihat perasaan si anak rantau. Terus saat si anak rantau ini melakukan hal negatif malah tidak menasihatinya justru mencemoohnya dari belakang. Sungguh dilema ini harus dihadapi anak rantau:(

Tapi biarlah itu menjadi cerita ‘indah’ dan kenagan bagi anak rantau. Semua terasa indah jika disukuri dengan hati yang tulus menerima apapun perlakuan orang padanya. Semua adalah tempahan yang tak bernilai harganya dan tak akan didapati oleh anak manapun selain anak yang berani keluar meninggalkan kampung halamannya. Saat air mata harus bercucuran membasahi pipi betapa anak rantau hanya bisa belajar untuk tegar menahan tangis.

Anak rantau itu merindukan kampung halaman, merindukan sang bunda, iya sang bunda, lagi sang bunda:( lalu ayah dan keluarga di kejauhan sana. Tapi lagi- lagi kerinduan itu hanya sekedar rindu pada api yang tak menemukan asap, pada embun yang tak menatap mentari dan pada indahnya senja sore yang tak menemukan malam.

Perkenalkan aku adalah anak rantau yang menatap langit saat tangis itu membasahi bumi. Pliss jangan anggap kami asing tersebab kami berpijak di bumi Tuhan yang sedikit pun tidak pernah membeda- bedakan hambanya. Sekali lagi pilisss hargai kami dan sayangi kami karena kami jauh dari orang tua. So I Love You all atas nama kemanusiaan maka balas lah usaha kami mencintai sebisa yang kami bisa. Inilah ratapan penulis selama menjadi anak rantau yang selalu saja ada yang meremehkan.

Pada dinding malan ini di sepertiga malam, penulis ingin berdoa pada Ilahi Rabbi Tuhan sekalian alam yang Maha Mencintai agar menguatkan hati menerima segala benci mahluk dengan istana kemaafaan lalu membalasnya pada relung cinta terdalam. Sungguh berat rasanya namun itu lah pilihan kami si anak rantau.

Si anak rantau selalu mempelajari budaya setempat untuk mincatai manusia. Namun kenapa selalu ada manusia yang tak menghargai? Selalu saja ada yang mencibiri? Tak pernah menasihati tapi menghakimi? Apakah ini balasan bagi kaki yang berpijak jauh meninggalkan keluarga tercinta?

Ahhhhhh gelisah si anak rantau ini hanya tertuang dalam dinding coretan pena. Semoga mengobati dan terobati:)

Bersambung…

#corentanpenaanakrantau

Andalan

Menjaga Asa Menggenggam Pena

Karya itu memang terkadang tak tampak kini. Kita harus menjadi manusia yang kadang harus lebih sepi dari manusia lain. Sepi dalam arti luas betapa banyak hal yang harus di pikirkan. Terkadang pena itupun memanggil kita dalam lakon menggoreskan semua pikiran. Narasi dan perjuangan tak boleh dipisahkan.

Cakrawala angkasa menangkap semua pesan apa yang dituliskan oleh sang pena. Begitulah aku melihat awan selalu ada lukisan indah yang terbentuk. Menyirat pesan akan semua yang ada haruslah di lukiskan dan tertuang dalam aksara cakrawala, seolah menarikan pena diatas putihnya secarik kertas seperti awan itu perlu ada kata dan kalimat yang terangkai. Kertas dihujani dengan tinta bak awan putih itu.

Sungguh pekerjaan paling mulia ialah meninggalkan warisan ilmu pengetahuan. Berjalanlah diatas tenda biru sembari memilu memegang pena dalam suka dan duka. Rangkailah setiap peristiwa untuk kau wariskan, tuangkan pikiran dan gagasanmu hingga kelak kau dikenal sepanjang masa.

Betapa banyak kata yang ingin aku ungkapkan bahwa yang pikiran haruslah melahirkan ide, yang melihat tinta haruslah menggores pena.

Bukankah Shakespear itu menulis 38 drama monumental hingga ia dikenal sejagat raya sebagai penulis Inggris terbaik. Di masa itu jangankan komputer bahkan mesin tik pun tak ditemukan. Dia telah berjuang diatas kertas dengan penanya bukan?

Begitu pula dengan “Indonesia Menggugat” Sudah diterjemahkan dalam 40 Bahasa. Soekarno dinobatkan sebagai bapak Revolusi lalu pikiran dan gagasannya menginspirasi dunia. Ini semua terjadi karena Soekarno bernai menuliskan gagasan dan pikirannya.

Pun dengan RA Kartini betapa ia menulis dan menyalakan semangat perjuangan hingga terbitlah terangnya kegelapan akibat kebodohan. Surat- surat yang ditulis Kartini telah menjadikannya ibu sepanjang masa bagi bangsanya. Inilah akibat dari sebuah tulisan.

Untuknya mari mulai menulis dengan menjaga asa dan menggenggam pena dalam karya. Karya memang luas arti dan maknanya tidak melulu menulis. Jika berani berkarya maka bersiaplah untuk menuliskan nama didinding sejarah yang akan mengabadi sebagai warisan untuk generasi mendatang.

Tetaplah menjaga asa dan menggenggam pena karena dengannya kau akan tau betapa menulis adalah hal paling mengasyikan dalam kesendirian. Menulis membuat candu positif bagi penikmatnya mengalahkan candu kafein berton- ton jumlahnya.

Menulis lah hingga akhir hayatmu kelak. Biar dunia menyadari betapa kita pernah berpijak dibuminya. Mengabadikan warisan terbaik ialah dengan warisan ilmu pengetahuan bukan? Semoga segala kerendahan hati dan kesederhanaan sikap kita semua selalu dibimbing dan dikuatkan oleh Ilahi untuk menggoreskan pena selalu. Sekian dari penulis moga membawa manfaat:)

Tanah Air

Padamu aku berjani
mencintai sampai mati
bersma bangsa ini
karena Yang Maha Esa cinta ini

padamu aku berbakti
mengabdi tiada akhir
biarlah tumbuh diri ini
menjaga bangsa sejak hati

padamu aku berkarya
langkah-langkahku menyatu
dalam pijakan ibu pertiwi
sentuhanku untuk bangsa

para korup bangsa ini
biarlah jadi kaparat
namun biarkan kami berdiri
pasang badan melawan keparat

tanah airku negri elok
kaya tiada tara duanya
melimpah alam pusakanya
warisan bagi putra pertiwi

berpeluh darah perjungan
segala bentuk penjajahan
harus musnah tanpa ampun
jangan harap kalian bertahan

jaga tanah air
luka perjuangan saksinya
kini negeriku terkapar
mari menyeru dan melawan

Yogyakarta, Sekolah Teladan

albar_alf

Insan Papua Yang Ku Kenal

Jika bicara tentang sejarah dan konflik dalam sejarah bangsa ini penulis adalah generasi milenial. Generasi yang akan bias interpretasi alias penafsiran sejarah dengan kemungkinan besar akan salah. Penulis bukanlah pelaku sejarah bukan juga saksi penuturan sejarah langsung dari pelaku sejarah. Alangkah jauh jarak penulis sebagai generasi baru dalam membaca sejarah. Namun kali ini penulis hanya ingin mengeja sejarah sebuah upaya mencintai bangsa dalam mengisi peristiwa dan langkah kedepan dalam ekspresi cinta tanah air.

Mencintai tanah air harusnya juga mencintai saudara setanah air kita yang nun jauh disana. Saudara kita di Papua yang kini hangat jadi perbincangan seantero negeri. Penulis tidak akan menilik upaya penyelesaian konflik yang terjadi. Secara ringan akan menguraikan ejaan sejarah dengan menceritakan pengalaman penulis tentang Papua yang penulis kenal.

Berkesempatan mengunjungi Timor Leste sungguh telah membuka cakrawala baru penulis tentang manusia yang kita kenal denga rasa dan warna kulit yang berbeda. Banyak cerita tentunya namun persahabatan dengan mereka adalah warna baru dalam hidup. Akhirnya penulis mencoba mendalami mereka lebih dalam dan mengeja sejarah kenapa ada wilayah yang bisa lepas dari pangkuan sejarah Ibu Pertiwi.

Penulis temukan dalam ejaan sejarah sederhana ternyata saudara kita di Timor Leste mengalami dua kali proklamasi atau dua kali merdeka dan mereka sejatinya adalah negara sendiri yang pernah ikut dalam pangkuan NKRI namun apalah daya mereka harus lepas dari pangkuan itu dalam takdir sejarah. Setelah membaca sejarah Timor Leste ini secara perlahan akhirnya sekembalinya penulis ketanah air menjadikan ini tema diskusi tentang Papua dengan sahabat-sahabat Papua yang penulis kenal.

Ternyata sedikit pengetahuan didapati Papua memiliki perjanjian lama tentang Papua itu pernah berdiri sebagai bangsa yang juga akhirnya ikut dalam pangkuan NKRI, kita kenal dengan sebutan negara Koloni Hindia-Belanda di masa awal- awal kemerdekan. Lalu pernah juga menelaah dengan segala kekayaan dan banyaknya bahasa dalam suku- suku Papua berjumlahkan ratusan terbayangkan betapa besar Papua dibenak penulis, namun perlu diingat dengan kekayaan dan kebasaran Papua dalam hati penulis kaget dan kagum betapa mereka sudah mencintai bahasa tanah air Indonesia sejak sebelum kemerdekaan di tahun 1926 mengadopsi bahasa melayu sebagai bahasa pengantar mereka. Penulis merasakan sendiri pernah lahir ditanah melayu betapa sahabat Papua kita itu fasih berbahasa melayu. Ironi rasaya jika melabeli mereka yang tidak- tidak jika dalam ejaan sejarah ditemukan mereka telah memeluk ibu pertiwi dengan eratnya.

Ini sedikit ejaan sejarah penulis, dengan alamiah juga penulis ditakdirkan bersahabat dengan mereka bangsa “kulit hitam” dalam pangkua NKRI. Penulis memiliki abang angkat dari Papua yang dalam kurun waktu satu tahun ini telah asyik menjadi sahabat diskusi sekaligus teman seperjuangan dalam tanah rantauan untuk sama- sama menyelesaikan studi akhir. Tanah Jawa ini jadi saksi bisu persahabatan kami berdua. Sebutan Pace akrab penulis sapa abang angkat satu ini. Putra Papua sederhana bersahaja dalam bersahabat yang pernah penulis temui. Diskusi kami berdua saat lelah menyelesaikan tugas akhir diwaktu istrahat dengan santai mengisi pembicaraan berbobot, ada kelakar dan penuh nutrisi tentunya. Kami berdua bertukar pikiran tentang banyak hal dari sejarah tanah air, diskusi buku, bertukar bacaan, menelaah bersama novel berbobot tinggi hingga sampai telaah masalah Papua belakangan ini.

Penulis bersyukur memiliki sahabat sekaligus abang alias Pace dari Papua, dengan bersahaja tetap menginspirasi sampai detik ini menuliskan sedikit yang bisa dibagikan. Terbantahkanlah anggapan kurang tepat bahwa masyarakat Papua masih memiliki tingkat SDM rendah, data seakurat apapun ini masih bisa dipedebatkan. Sejak 1926 mencintai bahasa Indonesia ini menandakan di dada mereka masih menyala bara ibu pertiwi akan semangat nasionalisme pada negeri tercinta nan kaya ini.

Papua yang penulis kenal ialah insan bersahaja tidak boleh dipandang sebelah mata. Pace satu ini sangat tertarik dengan dunia sejarah karena penulis pernah bilang sejarah teramat penting. Sautu hari kami berdua akhirnya pernah bedah buku sebuah novel yang ditulis oleh novelis terbaik yang penrah penulis temukan. Novel Bumi Cinta karya Kang Abik (Habiburrahman El Sirazy) ini membuka cakrawala kami berdua betapa besar konflik dibawa kepemimpinan Lenin dan Stalin dalam membantai masyarakat Eropa dengan bengisnya melalui gerakan komunisme awal- awal abad itu melakuakn pembantaian puluhan juta nayawa harus bermandikan darah. Hingga peristiwa pembantai PKI di Indonesia yang tak kalah menyeramkan dengan penuh biadab umat manusia dibuh dan dan disembelih tanpa ampun terutama para kiai- kiai sebagai tokoh agama.

Kami berdua sepakat betapa pentingnya sejarah harus diungkapkan agar tak ada lagi nyawa yang hinga sebab kami berdua pahami membunuh satu nyawa itu sama membunuh manusi sejagad. Dalam hati kecil penulis dan abang angkat asal Papua ini tentu tak ingin bila konflik di negeri ini terjadi. Sungguh teriakan hati kecil tidak rela tingkah kebiadaban harus terjadi.

Ini lah sedikit bobot diskusi dengan abang angkat orang Papua pengalaman penulis alami. Tolong jangan labeli saudara kita ini dengan stigma negatif! Ini permintaan pribadi penulis melalui tulisan kali ini. Dari akar rumput sejarah ternyata Papua sudah merangkul kita dari ras melayu secara keseluruhan Indonesia. Sejak dulu mereka mencintai negeri ini dalam ejaan sejarah. Papua butuh cinta, “gitu aja kok repot” kelakar Gus Dur dalam satu kesempatan mengunjungi Papua. Penulis juga ingin rasanya berselancar mengitari seluruh jengkal tanah Papua untuk hari mendatang. Akhir tulisan ini semoga membuka cakrawala baru tentang Papuan yang penulis kenal dan kita kenal bersama.

Segitiga Cinta

Ilustrasi.net

Hallo netijen lama bet gak nulis lagi. Pen sih tiap hari ato weekend rutin ngasih tulisan ternyata gak semudah yang dibayangin. Kerjaan yang tiba2 datang selalu saja jadi tantangan tersindiri hehehe.

Yaudah langsung aja, kali ini aku ingin berbagi dan mendiskusikan tentang segitiga cinta. Tidak hanya segitiga bermuda saja yang memiliki tantangan namun segitiga cinta juga memiliki tantangan tersendiri. Yups aku ingin menguraikan apa sih segi cinta yang dimaksud?

Berawal dari satu kata CINTA. Kata ini bisa dimaknai dari sudut berbeda dengan cara pandang apa saja. Nah kali ini aku bakal liatin dari sudut pandang yang aku pahami. Sekarang sepakat gak sih kalo cinta itu memuliakan? Nah kemuliaan adalah sebuah penghormatan tinggi. Namun ada juga yang memiliki perpektif bahwa cinta itu orientasinya hanya kebutuhan hasrat syahwat saja dan ini pandangan Frued pakar psikolog yang bebas dalam nalar tanpa dipengaruhi nilai agama. Namun apapun itu perspektifnya izinkan kali ini aku uraikan 3 tingkatan cinta yang nantinya akan membentuk segitiga cinta yang moga saja manfaat dalam perpektif baru tentang cinta:)

Pertama, Cinta yang membentuk lancip ke atas dan hanya satu kemudian tertinggi ialah cinta hanya pada Ilahi sang pemilik hati sekaligus yang menganugrahkan cinta pada setiap hati. Bagiku cinta ini mutlak dan tidak bisa ditawar lagi. Karena hanya Dia saja yang mampu menyempurnakan cinta. Untuknya untukmu pejuang cintailah sungguh- sungguh sang maha Rahman yang memiliki cinta paling sempurna diantara segala cinta ini. Kadang kita lupa dan terlena pada cinta yang semu lalu melupakan dia. Bener gak bro dan sis?

Kedua, mencintai orang yang dicintai Ilahi sang kekasihnya. Tentu Rasul dan orang shalih lainnya. Kenapa sih perlu mencintai mereka? Mudahnya tersebab mereka adalah pembawa hikmah dan ilmu yang langsung dari Ilahi. Bukankah mereka akan mendapat bimbingan karena cinta dari-Nya? Yuk mulai saat ini mendekatlah pada orang- salih lagi fakih agar hati subur dalam menerima semai benih cinta lalu menumbuhkannya hingga alam merasakan mafaat cinta itu. Rasulullah sudah tak dijumpai langsung namun mereka kekasih Ilahi saat ini adalah pewaris nabi dan Rasul tersebab cinta mereka pada Ilahi Rabbi.

Terakhir, kepada siapakah melabuhkan cinta selanjutnya? Maka labuhkanlah pada hati yang dipilih hati! Terdengar ambigu, manusia bisa jadi jatuh cinta. Dan terkadang entah sama siapa pun tak terduga. Pada pilihan hati ini maka bawalah dia pada hakikat cinta. Aku dan dia yang dipilih masih jauh dari kata sempurna bahkan malu dan rasanya belum layak jika disejajarkan dengan kekasih Ilahi Rabbi:(. Namun apa pun itu ikhtiar dan doa janganlah putus! Usahakan sejajar dengan kekasih-Nya hingga segitiga cinta itu terbentuk. Tidak perlu pesimis dan putus asa akan banyaknya dosa dimasa lalu. Lakukan saja dan BISMILLAH mulai langkah pada cinta segitiga.

Dari uraian di atas setidaknya kita bisa memahami bahwa cinta adalah memuliakan. Yang paling tak bisa ditawar cinta menjulang tinggi dan satu- satunya hanya pada Ilahi. Selanjutnya membawa diri dan pasangan hati untuk bisa sama dengan orang- orang yang dicintai-Nya. Hingga segitiga cinta adalah jalan cinta yang sempurna bagi hati- hati tulus ikhlas mencari keridhaan-Nya.

Bisa jadi cinta inilah yang sejatinya menjadi sumber kebahagiaan. Sedikit pen share pengalaman pribadi. Saat aku berdoa pada Ilahi sehabis bersimpuh pada-Nya dan dalam doa itu menyertakan nama orang yang dicinta. Setelah itu bertemu dengan pasangan hati yang ada dalam doa tadi sungguh kebahagiaanya tak terkira. Mungkin begitulah sederhananya dampak dari segitiga cinta pada perspektif cinta yang ditawarkan kali ini.

Inilah satu perspektif cinta yang ingin diuraikan. Silahkan bro dan sis memberikan pandangan. Kita sama2 terbuka dalam memberi manfaat dan pengetahuan. Inilah wujud cinta yang bisa aku berikan dan moga manfaat.

Salam hangat dari albar:)

Pemimpin Indonesia (PI)

images (1)
Halo wan kawan mungkin ini sapaan rindu untuk share tulisan lagi:) sebelumnya salam hangat deh buat kalian semua. Langsung saja kali ini penulis mencoba melihat perspektif lain tentang arti calon pemimpin. Belakangan ini rakyat dengan jumlah ratusan juta penduduk Indonesia fokus pada berita tentang capres dan cawapres dari fua paslon 01 dan 02 yang nantinya bakal memimpin Indonesia 5 tahun mendatang.

Nah tulisan ini tidak akan mengempanyekan pihak satu dan pihak lain. Satu yang coba penulis kembangkan secara luas ialah arti kata dari pemimpin itu sendiri. Umum dipahami bahwa pemimpin adalah orang yang memimpin alias atasan tertinggi dalam sebuah struktur saat ini kaitanya dengan pilpres adalah Presiden sebagai orang tertinggi dalam susunan kelembagaan negara. Namun dan terkadang sebagian diantara kita melupakan istilah luas dari definisi pemimpin! Pemimpin secara bahasa diartikan adil dan meluruskan, ditengah, lalu menyeimbangkan, kemudian mempersatukan.

Dalam konteks di negeri kita hari ini rasanya perlu deh pemimpin yang tidak hanya memiliki kedudukan tertinggi dalam bagan pemerintahan. Hari ini masih banyak masyarakat yang belum dewasa mungkin karena banyak faktor, hari ini banyak rakyat yang masih belum paham arti persatuan dan persaudaraan, ahhh banyak lagi deh:(. Pemimpin yang menengahi dan menyatukan itu mutlak hadir. “Rindu nian ambo orang cak Bung. Karno” begitulah dialeg melayunya dimana sosok Bung. Karno begitu hebatnya memimpin negeri ini di masa awal lahirnya sebuah bangsa dari nasib yang terjajah beliau hadir mempersatukan rakyatnya hingga rela menghibahkan hidupanya sebagai “penyambung lidah rakyat”.

Indonesia pernah memiliki wajah demokrasi yang carut marut lalu hadirlah sosok Habibi, Gus Dur hingga SBY dalam menengahi gejolak konflik berkepanjangan. 98 turunya rezim orde baru oleh Habibi disikapi dengan penuh optimisme tentang arah baru wajah demokrasi bangsa. 99 lepasnya Timor Leste dari Indonesia karena konflik dan korban jiwa yang begitu besar di tahun- tahun berikutnya SBY membangun harmonisasi hubungan dengan Xanan Gusmao yang dikenal sebagi pendiri Republik Timor Leste. Dan babak terpenting bagi dewasanya negeri ini hadir sosok Gus. Dur untuk menyudahi masalah ras dan etnik di negeri ini, final dan jangan ada rasis lagi lalu akhirnya Gus. Dur mampu menjaga setiap jengkal dari tanah NKRI ini utuh bahkan rakyat papua mengangkatnya sebagai ayah angkat. Gus. Dur layaknya Bung. Karno yang mampu memikat hati rakyatnya walau beda dengan caranya masing- masing.

Dalam konteks pilpres mendatang semoga kedua paslon baik paslon no.1 dan 2 mampu menjadi pemimpin meneladani pendahulu dan menjawab tantangan dimasanya. Jokowi dengan gaya lipatan baju di lengannya semoga menjadi gesture alias mengirim pesan untuk saling merangkul satu sama lain. Prabowo dengan jas hitam penuh wibawa harapannya juga membawa pesan kedigdayaan negara dan mampu ikut bersama rakyat menjaganya.

Sekian dulu dari penulis harapannya menambah kazanah pengetahuan. Siapapun presidennya ingatlah bahwa bangsa ini tidak akan pernah kehilangan pemimpinya, sejarah telah membuktikan:)

Generasi Emas

Generaasi emas adalah generasi penerus yang akan membaawa pada satu kemuliaan gerbang peradaban. Dimulai dari pendidikan bagi generasi pelanjut tongkat perjuangan risalah kemuliaan Islam. Generasi Emas tentunya ialah generasi luar biasa cerdas, penuh adab dan kemuliaan. Sumbangsih dari generasi emas terasa hingga kini. Tentunya generasi emas adalah generasi yang terkoneksi dengan Al- Qur’an.

Generasi penerus manusia pada abad- abad mendatang tentu memiliki segala tantangan zaman tersendiri termasuk tantangan ilmu dan peradaban hidup manusia. Dan dimasa keemasan Islam ternyata Al- Qur’an menjadi jawaban untuk sebuah kemuliaan peradaban dari generasi emas yang tengah penulis uraikan.

Ada yang unik jika berbicara tentang Al- Quran, dikaitkan dengan dunia pendidikan untuk hadirnya generasi emas. Tersebutlah seorang peneliti asal India terheran- heran dengan anak- anak di masa kejayaan Islam dulu. Dia bertanya- bertanya mengapa para ilmuan di masa kejayaan dulu begitu cerdas dan mampu menguasai banyak cabang ilmu pengetahuan. Pertanyaan ini membuat ia penasaran dan flash back melihat bagaimana anak- anak pada masa kejayaan mendapatkan pola asuh dari kedua orang tua mereka? Hal pertama apa yang dilakukan?

Ternyata jawbanya simple, hal pertama yang dilakukan ialah menanamkan Al- Qur’an terlebih dahulu ke hati anak- anak sebelum mereka mempelajari apapun. Peneliti asal India tersebut menemukan, rata- rata di Usia 4 sampai 7 tahun anak- anak di masa kejayaan dulu sudah menghafal Al- Qur’an dan maknanya di isi kepala mereka dan ini menjadi pondasi untuk mereka menguasai cabang ilmu apapun nanti dikemudian hari.

lahirlah cendikiawan muslim yang kelak akan mewarnai perjalanan perdaban dan sumbangsih besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi di masa masa cemerlang hingga kini. Mau tau siapa saja tokoh- tokoh hebat di masa keemasan? Nantikan postingan selanjutnyaa…:)

Potret (bejat) Penerus Bangsa, Hello?

Ahhhh bingung mau mulai dari mana nih tulisan, liat fenomena generasi penerus yang kian hari bejatnya nggak ketulung. Penulis juga praktisi pendidikan di jurusan pendidikan, pernah ngajar di negara baru dengan latar belakang masyarakat yang kulturnya kita kenal keras. Satu bulan lebih mengajar anak- anak setingkat SMA di kota Dili, Timor Leste menjadi pengalaman berharga. Berinteraksi dengan masyarakat asli Timor Leste dan mereka mengakui anak- anak mereka harusnya dikerasi saja, “dikerasi kadang kagak mempan” pengakuan mereka. Bergaul dengan ibu guru yang sudah mengajar selama puluhan tahun di sekolah dengan anak asli Timor Leste, gak ada tuh kebejatan anak yang berani rokok di kelas depan guru, banting ganja dan nonton filem mesum seenaknya. Penulis belum menemukan keluhan ini.

Negara baru belasan tahun ini berdiri, tidak separah yang baru saja viral di negara kita puluhan tahun merdek dari penjajahan dengan segala kebiadaban mempermalukan bangsa ini. Dipertontokan melalui medsos kebengisan anak- anak di salah satu wilayah di Indonesia, malu sebut nama daerahnya jika mendengar dialeg cuplikan vidio yang viral itu. Ini jadi tontonan? Hello kemana wajah malu kita? Penulis sebagai insan pendidik sungguh malu rasanya SUMPAH.

Nih kita liat dulu cuplikanny, MIIIRRRIIIISSS BUNG. Tolong sebisanya tidak disaksikan oleh anak didik. Cukup para guru dan wali murid please yang nonton cuplikan ini!

Coba perhatikan, nakalnya amat keterlaluan. Dulu penulis bisa dikategorikan nakal pake tapi. Tetep hormat ma guru, tetep menjaga nama baik guru penuh kepatuhan. Lah ini bagaimana ya. Yuk kembalikan martabat pendidikan negeri ini. Peserta didik harus dikawal, pendidik jadi pengawal utamanya. Gak ada kata bejat melainkan anak nakal harus dijaga bukan dibiarkan, yuk bedakan juga anak bejat dengan anak nakal. Bejat itu penuh biadab serta kebengisan sedang nakal hanya butuh perhatian. Semoga sampai disini paham ya sobat.

Kebejatan sama halnya kemerosotan akhlak, amanat UU. No. 20 tanhun 2003 tentan Pendidikan Nasional harus dikawal! Guru bangsa kita sudah meneladani betapa meraka juga pendidik. Salah satu pesan saat ngisi kuliah di amrik, KH. Agus Salim berpesan arti penting bagi moral bangsa,

Lahh kita hari ini bukan lagi kemerosotan akhlak melainkan badai akhlak melanda anak negeri dengan penuh kebejatan. Sudah, cukup ini jadi tontonan pertama dan terakhir. Sekian dulu uraian dari penulis. Semoga bermanfaat dan salam hangat:)

Yogyakarta, 10 Januari 2019

(A. R)

Negeriku “Takut” perang gagasan, hello PILPRES

Sebelum nulis terkait isu ini, penulis rasanya ingin berterimakasih sama Evan Williams selaku penemu blog, twiter dan sebangsa medsos gandrungan anak muda zaman now yang hingga kini masih bisa dinikmati. Khusunya bagi kaum “pecandu” aksara seperti penulis. Lewat dinding ini penulis bisa bebas bersuara tanpa harus ribet di kirim ke media dengan proses panjang. Disini hanya menuliskan pikiran dan seketika langsung bisa diterbitkan tanpa ribet.

Kembali ke laptop, ditahun ini banyak pakar menyebutnya sebagai tahun politik. Para pakar menyebutnya demikian bukan tanpa alasan, salah satu alasan terkuat ialah melihat realitas rakyat Indonesia sepertinya belum dewasa dalam sikap politik walau secara positif anak- anak muda negeri ini sudah banyak yang mengambil peran di panggung politik dan sebagian besar anak muda juga tidak apolitis alias apatis sama fenomena politik atau bahasa kerennya melek politik.

Dari semangat melek politik inilah penulis mencoba menguraikan sebuah pikiran tentang kegelisaan sebagai anak muda akan miskinnya gagasan yang akan menimpa negeri ini. Yuk kita masuk pada spesifik tentang pilpres! Netizen sudah mendengar akan berlangsung depat Capres dan Cawapres dalam waktu dekat ehh ternyata gak jadi karena lain dan berbagai hal.

Fenomena ini menjadikan penulis melihat satu permasalahan bangsa yang begitu fatal dan akan menjadi racun bagi anak negeri. Ada ketakutan untuk adu gagasan yang mana seorang pemimpin atau calon pemimpin mutlak harus memilikinya. Negeri ini merdeka, berdiri sebagai bangsa hingga terbentuk satu kesatuan yang kita kenal dengan NKRI. Adalah Bung. Karno sang proklamator kemerdekaan, dialah Bung. Natsir atau dikenal M. Natsir tokoh sekaligus cendikiawan muslim perumus mosi integral sebagai cikal bakal bersatunya Indonesia (NKRI) dari Sabang sampai Maraoke. Kedua tokoh ini sering perang gagasan dan perang gagasan ini tidak menghalangi sebuah perubahan besar terjadi pada negeri, lalu sejarah pun mencatat perang gagasan mereka yang berbobot peletak batu kemerdekaan.

Sejatinya banyak lagi tokoh- tokoh politik bangsa kala itu memiliki gagasan brilian yang terus berkecamuk hingga terjadilah perumusan sebuah dasar negara yang besar, mengahargai jasa pahlawan, bermartabat, bermoral dan memiliki cita- cita besar pada perdamain dunia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah gagasan harga mati dari pergolakan gagasan- gagasan luar biasa. Sebut saja tokoh, para alim, cerdik pandai negeri ini; KH. Wahid Hasyim, Hatta, Ki Bagus Hadi Kusuma, Kartosuwiryo, Sahrir dan tokoh pendiri lainnya.

Semua tokoh diatas adalah pemimpin sekaligus pendidik gagasan. Lahhh kenapa hari ini takut menampilkan ke publik untuk Capres dan Cawapresnya menguraikan gagasan? Apa salahnya kalo mereka perang gagasan? Bukankah ini lebih bermartabat dari hanya sekedar cuitan lewat medsos dan terlihat tanpa akhir?

Semoga pihak yang berwenang memperhatikan hal ini. Betepa pentingnya gagasan dan pertarungan gagasan sebagai benih menumbuhkan harapan peradaban. Harapan peradaban ini tidak hanya untuk bangsa melainkan juga untuk dunia.

Tulisan sederhana ini sejatinya surat terbuka untuk semua elite politik Bangsa Besar Republik Indonesia, termasuk pihak penyelenggara pesta demokrasi dan terkhusus bagi pasangan kedua paslon 01 dan 02 sebagai kandidat- kandidat kuat untuk memimpin negeri yang besar ini.

Sekian dari penulis, pecandu aksar lagi melek politik. Menjadi perhatian karna pecandu aksara juga punya hak mencintai negeri ini dari segala aspek dan bidangnya, salam sukses hangat dari penulis.

Yogyakarta, Masjid Syuhada
08 Januari 2019

(A. R)

Hey Kawan

Hey kawan aku tau kau masih kurang
Kawan, manusia seperti kita memang jauh dari sempurna
Kawan, banyak yang cibiri dan berkata- kata tentangmu
Kawan, sudahilah memikirkan semua ucapan mereka

Hey kawan aku tau kau masih berproses
Kawan, langakah tak semudah ucapan dan tulisan
Kawan, memang angan itu mudah dan menyenangkan imaji
Kawan, aku yakin kau pasti bisa melangkah bertahap step by step

Hey kawan lelahmu terasa tak berakahir
Kawan, berhentilah mengutuk takdir mencaci yang terjadi
Kawan, bermainlah pada kata dan imaji istana harapan
Kawan, menarilah bersama pena merajut aksara cakrawala

Hey kawan kadang kau putus asa
Kawan, jangan biarkan hatimu sesal tanpa henti
Kawan, langakah kan saja tapak sejarah juangmu
Kawan, kau pasti bisa berdiri diatas tinta emas sejarah kejayaan

(A. R)
Drussyahadah, Boyolali
6 Januari 2019