Anak Rantau

AnaK rantau? Hem plis jagan meremehkan anak yang sedang merantau. Memang mereka anak yang sedang “terasing” tapi mereka menggenggam mimpi. Seisi bumi bisa saja membenci mereka tapi tidak akan mengendorkan sedikitpun kekuatan mereka untuk menggenggam dunia. Memang dalam perantauan selalu ada rintangan, cacian dan makian dari mereka yang mengaggap mereka anak rantau itu asing.

Penulis merasakan bahwa di tanah rantau pernah diremehkan. Saat melakukan kebaikan ada saja mata yang melihat keburukan lalu mengungkapkan tanpa melihat perasaan si anak rantau. Terus saat si anak rantau ini melakukan hal negatif malah tidak menasihatinya justru mencemoohnya dari belakang. Sungguh dilema ini harus dihadapi anak rantau:(

Tapi biarlah itu menjadi cerita ‘indah’ dan kenagan bagi anak rantau. Semua terasa indah jika disukuri dengan hati yang tulus menerima apapun perlakuan orang padanya. Semua adalah tempahan yang tak bernilai harganya dan tak akan didapati oleh anak manapun selain anak yang berani keluar meninggalkan kampung halamannya. Saat air mata harus bercucuran membasahi pipi betapa anak rantau hanya bisa belajar untuk tegar menahan tangis.

Anak rantau itu merindukan kampung halaman, merindukan sang bunda, iya sang bunda, lagi sang bunda:( lalu ayah dan keluarga di kejauhan sana. Tapi lagi- lagi kerinduan itu hanya sekedar rindu pada api yang tak menemukan asap, pada embun yang tak menatap mentari dan pada indahnya senja sore yang tak menemukan malam.

Perkenalkan aku adalah anak rantau yang menatap langit saat tangis itu membasahi bumi. Pliss jangan anggap kami asing tersebab kami berpijak di bumi Tuhan yang sedikit pun tidak pernah membeda- bedakan hambanya. Sekali lagi pilisss hargai kami dan sayangi kami karena kami jauh dari orang tua. So I Love You all atas nama kemanusiaan maka balas lah usaha kami mencintai sebisa yang kami bisa. Inilah ratapan penulis selama menjadi anak rantau yang selalu saja ada yang meremehkan.

Pada dinding malan ini di sepertiga malam, penulis ingin berdoa pada Ilahi Rabbi Tuhan sekalian alam yang Maha Mencintai agar menguatkan hati menerima segala benci mahluk dengan istana kemaafaan lalu membalasnya pada relung cinta terdalam. Sungguh berat rasanya namun itu lah pilihan kami si anak rantau.

Si anak rantau selalu mempelajari budaya setempat untuk mincatai manusia. Namun kenapa selalu ada manusia yang tak menghargai? Selalu saja ada yang mencibiri? Tak pernah menasihati tapi menghakimi? Apakah ini balasan bagi kaki yang berpijak jauh meninggalkan keluarga tercinta?

Ahhhhhh gelisah si anak rantau ini hanya tertuang dalam dinding coretan pena. Semoga mengobati dan terobati:)

Bersambung…

#corentanpenaanakrantau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *