Karya itu memang terkadang tak tampak kini. Kita harus menjadi manusia yang kadang harus lebih sepi dari manusia lain. Sepi dalam arti luas betapa banyak hal yang harus di pikirkan. Terkadang pena itupun memanggil kita dalam lakon menggoreskan semua pikiran. Narasi dan perjuangan tak boleh dipisahkan.

Cakrawala angkasa menangkap semua pesan apa yang dituliskan oleh sang pena. Begitulah aku melihat awan selalu ada lukisan indah yang terbentuk. Menyirat pesan akan semua yang ada haruslah di lukiskan dan tertuang dalam aksara cakrawala, seolah menarikan pena diatas putihnya secarik kertas seperti awan itu perlu ada kata dan kalimat yang terangkai. Kertas dihujani dengan tinta bak awan putih itu.

Sungguh pekerjaan paling mulia ialah meninggalkan warisan ilmu pengetahuan. Berjalanlah diatas tenda biru sembari memilu memegang pena dalam suka dan duka. Rangkailah setiap peristiwa untuk kau wariskan, tuangkan pikiran dan gagasanmu hingga kelak kau dikenal sepanjang masa.

Betapa banyak kata yang ingin aku ungkapkan bahwa yang pikiran haruslah melahirkan ide, yang melihat tinta haruslah menggores pena.

Bukankah Shakespear itu menulis 38 drama monumental hingga ia dikenal sejagat raya sebagai penulis Inggris terbaik. Di masa itu jangankan komputer bahkan mesin tik pun tak ditemukan. Dia telah berjuang diatas kertas dengan penanya bukan?

Begitu pula dengan “Indonesia Menggugat” Sudah diterjemahkan dalam 40 Bahasa. Soekarno dinobatkan sebagai bapak Revolusi lalu pikiran dan gagasannya menginspirasi dunia. Ini semua terjadi karena Soekarno bernai menuliskan gagasan dan pikirannya.

Pun dengan RA Kartini betapa ia menulis dan menyalakan semangat perjuangan hingga terbitlah terangnya kegelapan akibat kebodohan. Surat- surat yang ditulis Kartini telah menjadikannya ibu sepanjang masa bagi bangsanya. Inilah akibat dari sebuah tulisan.

Untuknya mari mulai menulis dengan menjaga asa dan menggenggam pena dalam karya. Karya memang luas arti dan maknanya tidak melulu menulis. Jika berani berkarya maka bersiaplah untuk menuliskan nama didinding sejarah yang akan mengabadi sebagai warisan untuk generasi mendatang.

Tetaplah menjaga asa dan menggenggam pena karena dengannya kau akan tau betapa menulis adalah hal paling mengasyikan dalam kesendirian. Menulis membuat candu positif bagi penikmatnya mengalahkan candu kafein berton- ton jumlahnya.

Menulis lah hingga akhir hayatmu kelak. Biar dunia menyadari betapa kita pernah berpijak dibuminya. Mengabadikan warisan terbaik ialah dengan warisan ilmu pengetahuan bukan? Semoga segala kerendahan hati dan kesederhanaan sikap kita semua selalu dibimbing dan dikuatkan oleh Ilahi untuk menggoreskan pena selalu. Sekian dari penulis moga membawa manfaat:)

images (1)
Halo wan kawan mungkin ini sapaan rindu untuk share tulisan lagi:) sebelumnya salam hangat deh buat kalian semua. Langsung saja kali ini penulis mencoba melihat perspektif lain tentang arti calon pemimpin. Belakangan ini rakyat dengan jumlah ratusan juta penduduk Indonesia fokus pada berita tentang capres dan cawapres dari fua paslon 01 dan 02 yang nantinya bakal memimpin Indonesia 5 tahun mendatang.

Nah tulisan ini tidak akan mengempanyekan pihak satu dan pihak lain. Satu yang coba penulis kembangkan secara luas ialah arti kata dari pemimpin itu sendiri. Umum dipahami bahwa pemimpin adalah orang yang memimpin alias atasan tertinggi dalam sebuah struktur saat ini kaitanya dengan pilpres adalah Presiden sebagai orang tertinggi dalam susunan kelembagaan negara. Namun dan terkadang sebagian diantara kita melupakan istilah luas dari definisi pemimpin! Pemimpin secara bahasa diartikan adil dan meluruskan, ditengah, lalu menyeimbangkan, kemudian mempersatukan.

Dalam konteks di negeri kita hari ini rasanya perlu deh pemimpin yang tidak hanya memiliki kedudukan tertinggi dalam bagan pemerintahan. Hari ini masih banyak masyarakat yang belum dewasa mungkin karena banyak faktor, hari ini banyak rakyat yang masih belum paham arti persatuan dan persaudaraan, ahhh banyak lagi deh:(. Pemimpin yang menengahi dan menyatukan itu mutlak hadir. “Rindu nian ambo orang cak Bung. Karno” begitulah dialeg melayunya dimana sosok Bung. Karno begitu hebatnya memimpin negeri ini di masa awal lahirnya sebuah bangsa dari nasib yang terjajah beliau hadir mempersatukan rakyatnya hingga rela menghibahkan hidupanya sebagai “penyambung lidah rakyat”.

Indonesia pernah memiliki wajah demokrasi yang carut marut lalu hadirlah sosok Habibi, Gus Dur hingga SBY dalam menengahi gejolak konflik berkepanjangan. 98 turunya rezim orde baru oleh Habibi disikapi dengan penuh optimisme tentang arah baru wajah demokrasi bangsa. 99 lepasnya Timor Leste dari Indonesia karena konflik dan korban jiwa yang begitu besar di tahun- tahun berikutnya SBY membangun harmonisasi hubungan dengan Xanan Gusmao yang dikenal sebagi pendiri Republik Timor Leste. Dan babak terpenting bagi dewasanya negeri ini hadir sosok Gus. Dur untuk menyudahi masalah ras dan etnik di negeri ini, final dan jangan ada rasis lagi lalu akhirnya Gus. Dur mampu menjaga setiap jengkal dari tanah NKRI ini utuh bahkan rakyat papua mengangkatnya sebagai ayah angkat. Gus. Dur layaknya Bung. Karno yang mampu memikat hati rakyatnya walau beda dengan caranya masing- masing.

Dalam konteks pilpres mendatang semoga kedua paslon baik paslon no.1 dan 2 mampu menjadi pemimpin meneladani pendahulu dan menjawab tantangan dimasanya. Jokowi dengan gaya lipatan baju di lengannya semoga menjadi gesture alias mengirim pesan untuk saling merangkul satu sama lain. Prabowo dengan jas hitam penuh wibawa harapannya juga membawa pesan kedigdayaan negara dan mampu ikut bersama rakyat menjaganya.

Sekian dulu dari penulis harapannya menambah kazanah pengetahuan. Siapapun presidennya ingatlah bahwa bangsa ini tidak akan pernah kehilangan pemimpinya, sejarah telah membuktikan:)

Generaasi emas adalah generasi penerus yang akan membaawa pada satu kemuliaan gerbang peradaban. Dimulai dari pendidikan bagi generasi pelanjut tongkat perjuangan risalah kemuliaan Islam. Generasi Emas tentunya ialah generasi luar biasa cerdas, penuh adab dan kemuliaan. Sumbangsih dari generasi emas terasa hingga kini. Tentunya generasi emas adalah generasi yang terkoneksi dengan Al- Qur’an.

Generasi penerus manusia pada abad- abad mendatang tentu memiliki segala tantangan zaman tersendiri termasuk tantangan ilmu dan peradaban hidup manusia. Dan dimasa keemasan Islam ternyata Al- Qur’an menjadi jawaban untuk sebuah kemuliaan peradaban dari generasi emas yang tengah penulis uraikan.

Ada yang unik jika berbicara tentang Al- Quran, dikaitkan dengan dunia pendidikan untuk hadirnya generasi emas. Tersebutlah seorang peneliti asal India terheran- heran dengan anak- anak di masa kejayaan Islam dulu. Dia bertanya- bertanya mengapa para ilmuan di masa kejayaan dulu begitu cerdas dan mampu menguasai banyak cabang ilmu pengetahuan. Pertanyaan ini membuat ia penasaran dan flash back melihat bagaimana anak- anak pada masa kejayaan mendapatkan pola asuh dari kedua orang tua mereka? Hal pertama apa yang dilakukan?

Ternyata jawbanya simple, hal pertama yang dilakukan ialah menanamkan Al- Qur’an terlebih dahulu ke hati anak- anak sebelum mereka mempelajari apapun. Peneliti asal India tersebut menemukan, rata- rata di Usia 4 sampai 7 tahun anak- anak di masa kejayaan dulu sudah menghafal Al- Qur’an dan maknanya di isi kepala mereka dan ini menjadi pondasi untuk mereka menguasai cabang ilmu apapun nanti dikemudian hari.

lahirlah cendikiawan muslim yang kelak akan mewarnai perjalanan perdaban dan sumbangsih besar bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi di masa masa cemerlang hingga kini. Mau tau siapa saja tokoh- tokoh hebat di masa keemasan? Nantikan postingan selanjutnyaa…:)

Ahhhh bingung mau mulai dari mana nih tulisan, liat fenomena generasi penerus yang kian hari bejatnya nggak ketulung. Penulis juga praktisi pendidikan di jurusan pendidikan, pernah ngajar di negara baru dengan latar belakang masyarakat yang kulturnya kita kenal keras. Satu bulan lebih mengajar anak- anak setingkat SMA di kota Dili, Timor Leste menjadi pengalaman berharga. Berinteraksi dengan masyarakat asli Timor Leste dan mereka mengakui anak- anak mereka harusnya dikerasi saja, “dikerasi kadang kagak mempan” pengakuan mereka. Bergaul dengan ibu guru yang sudah mengajar selama puluhan tahun di sekolah dengan anak asli Timor Leste, gak ada tuh kebejatan anak yang berani rokok di kelas depan guru, banting ganja dan nonton filem mesum seenaknya. Penulis belum menemukan keluhan ini.

Negara baru belasan tahun ini berdiri, tidak separah yang baru saja viral di negara kita puluhan tahun merdek dari penjajahan dengan segala kebiadaban mempermalukan bangsa ini. Dipertontokan melalui medsos kebengisan anak- anak di salah satu wilayah di Indonesia, malu sebut nama daerahnya jika mendengar dialeg cuplikan vidio yang viral itu. Ini jadi tontonan? Hello kemana wajah malu kita? Penulis sebagai insan pendidik sungguh malu rasanya SUMPAH.

Nih kita liat dulu cuplikanny, MIIIRRRIIIISSS BUNG. Tolong sebisanya tidak disaksikan oleh anak didik. Cukup para guru dan wali murid please yang nonton cuplikan ini!

Coba perhatikan, nakalnya amat keterlaluan. Dulu penulis bisa dikategorikan nakal pake tapi. Tetep hormat ma guru, tetep menjaga nama baik guru penuh kepatuhan. Lah ini bagaimana ya. Yuk kembalikan martabat pendidikan negeri ini. Peserta didik harus dikawal, pendidik jadi pengawal utamanya. Gak ada kata bejat melainkan anak nakal harus dijaga bukan dibiarkan, yuk bedakan juga anak bejat dengan anak nakal. Bejat itu penuh biadab serta kebengisan sedang nakal hanya butuh perhatian. Semoga sampai disini paham ya sobat.

Kebejatan sama halnya kemerosotan akhlak, amanat UU. No. 20 tanhun 2003 tentan Pendidikan Nasional harus dikawal! Guru bangsa kita sudah meneladani betapa meraka juga pendidik. Salah satu pesan saat ngisi kuliah di amrik, KH. Agus Salim berpesan arti penting bagi moral bangsa,

Lahh kita hari ini bukan lagi kemerosotan akhlak melainkan badai akhlak melanda anak negeri dengan penuh kebejatan. Sudah, cukup ini jadi tontonan pertama dan terakhir. Sekian dulu uraian dari penulis. Semoga bermanfaat dan salam hangat:)

Yogyakarta, 10 Januari 2019

(A. R)

Sebelum nulis terkait isu ini, penulis rasanya ingin berterimakasih sama Evan Williams selaku penemu blog, twiter dan sebangsa medsos gandrungan anak muda zaman now yang hingga kini masih bisa dinikmati. Khusunya bagi kaum “pecandu” aksara seperti penulis. Lewat dinding ini penulis bisa bebas bersuara tanpa harus ribet di kirim ke media dengan proses panjang. Disini hanya menuliskan pikiran dan seketika langsung bisa diterbitkan tanpa ribet.

Kembali ke laptop, ditahun ini banyak pakar menyebutnya sebagai tahun politik. Para pakar menyebutnya demikian bukan tanpa alasan, salah satu alasan terkuat ialah melihat realitas rakyat Indonesia sepertinya belum dewasa dalam sikap politik walau secara positif anak- anak muda negeri ini sudah banyak yang mengambil peran di panggung politik dan sebagian besar anak muda juga tidak apolitis alias apatis sama fenomena politik atau bahasa kerennya melek politik.

Dari semangat melek politik inilah penulis mencoba menguraikan sebuah pikiran tentang kegelisaan sebagai anak muda akan miskinnya gagasan yang akan menimpa negeri ini. Yuk kita masuk pada spesifik tentang pilpres! Netizen sudah mendengar akan berlangsung depat Capres dan Cawapres dalam waktu dekat ehh ternyata gak jadi karena lain dan berbagai hal.

Fenomena ini menjadikan penulis melihat satu permasalahan bangsa yang begitu fatal dan akan menjadi racun bagi anak negeri. Ada ketakutan untuk adu gagasan yang mana seorang pemimpin atau calon pemimpin mutlak harus memilikinya. Negeri ini merdeka, berdiri sebagai bangsa hingga terbentuk satu kesatuan yang kita kenal dengan NKRI. Adalah Bung. Karno sang proklamator kemerdekaan, dialah Bung. Natsir atau dikenal M. Natsir tokoh sekaligus cendikiawan muslim perumus mosi integral sebagai cikal bakal bersatunya Indonesia (NKRI) dari Sabang sampai Maraoke. Kedua tokoh ini sering perang gagasan dan perang gagasan ini tidak menghalangi sebuah perubahan besar terjadi pada negeri, lalu sejarah pun mencatat perang gagasan mereka yang berbobot peletak batu kemerdekaan.

Sejatinya banyak lagi tokoh- tokoh politik bangsa kala itu memiliki gagasan brilian yang terus berkecamuk hingga terjadilah perumusan sebuah dasar negara yang besar, mengahargai jasa pahlawan, bermartabat, bermoral dan memiliki cita- cita besar pada perdamain dunia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah gagasan harga mati dari pergolakan gagasan- gagasan luar biasa. Sebut saja tokoh, para alim, cerdik pandai negeri ini; KH. Wahid Hasyim, Hatta, Ki Bagus Hadi Kusuma, Kartosuwiryo, Sahrir dan tokoh pendiri lainnya.

Semua tokoh diatas adalah pemimpin sekaligus pendidik gagasan. Lahhh kenapa hari ini takut menampilkan ke publik untuk Capres dan Cawapresnya menguraikan gagasan? Apa salahnya kalo mereka perang gagasan? Bukankah ini lebih bermartabat dari hanya sekedar cuitan lewat medsos dan terlihat tanpa akhir?

Semoga pihak yang berwenang memperhatikan hal ini. Betepa pentingnya gagasan dan pertarungan gagasan sebagai benih menumbuhkan harapan peradaban. Harapan peradaban ini tidak hanya untuk bangsa melainkan juga untuk dunia.

Tulisan sederhana ini sejatinya surat terbuka untuk semua elite politik Bangsa Besar Republik Indonesia, termasuk pihak penyelenggara pesta demokrasi dan terkhusus bagi pasangan kedua paslon 01 dan 02 sebagai kandidat- kandidat kuat untuk memimpin negeri yang besar ini.

Sekian dari penulis, pecandu aksar lagi melek politik. Menjadi perhatian karna pecandu aksara juga punya hak mencintai negeri ini dari segala aspek dan bidangnya, salam sukses hangat dari penulis.

Yogyakarta, Masjid Syuhada
08 Januari 2019

(A. R)

Hey kawan aku tau kau masih kurang
Kawan, manusia seperti kita memang jauh dari sempurna
Kawan, banyak yang cibiri dan berkata- kata tentangmu
Kawan, sudahilah memikirkan semua ucapan mereka

Hey kawan aku tau kau masih berproses
Kawan, langakah tak semudah ucapan dan tulisan
Kawan, memang angan itu mudah dan menyenangkan imaji
Kawan, aku yakin kau pasti bisa melangkah bertahap step by step

Hey kawan lelahmu terasa tak berakahir
Kawan, berhentilah mengutuk takdir mencaci yang terjadi
Kawan, bermainlah pada kata dan imaji istana harapan
Kawan, menarilah bersama pena merajut aksara cakrawala

Hey kawan kadang kau putus asa
Kawan, jangan biarkan hatimu sesal tanpa henti
Kawan, langakah kan saja tapak sejarah juangmu
Kawan, kau pasti bisa berdiri diatas tinta emas sejarah kejayaan

(A. R)
Drussyahadah, Boyolali
6 Januari 2019

Pagi buta itu aku sudah siap dan bergegas menuju stasiun tugu. Ya pagi buta sehabis subuh itu aku ingin berselancar ke Tebuireng sebuah pondok pesantren besar sekaligus salah satu yang tertua milik negeri ini. Misi kesana tidak lain dan tidak bukan adalah misi penelitian. Meneliti bapak pendiri bangsa KH. Wahid Hasyim ayah dari Gus Dur yang pernah menjadi Presiden RI dari kalangan santri (wow ini fenomenal dan pertama dalam sejarah, santri jadi presiden).

Pramex pagipun aku pesan dari jogja ke solo walau sudah memesan tiket dari stasiun puwosari solo ke jombang karena yang di jogja udah ludes habis tiketnya diborong ma rakyat indonesia dalam perhelatan menjelang pergantian tahun wkwkw. Mungkin faktor liburan sobat. Karena dari solo terbilang murah langsung saja saya boking deh. Dannn jam keberangkatan dari solo ternyata jam malam tepatnya pukul 20.32 hahahah. Siap2 dehh lelah menunggu seharian di pangkuan satsiun Purwosari.

Kaena lelah menanti alias nunggu sepanjang hari aku mencoba kuliner sekitar satsiun dan ternyaaaaattaaaa ada ada angkringan londo dengan konsep suasana rumah mewah belanda dan serasa dizaman belanda. Pertigaan depan stasiun kanan jalan angkringan itu mangkal. Suasananya enak dan tentunya seru buat taktik ketik tugas skripsi sembari menyicil dan membaca literature terkait Tebuireng dan sosok tokoh Wahid Hasyim.

Okey karna sudah menjamak qhasar shalatku aku pun mutusin sampe senja. Dan seperti biasa kalo senja tiba aku keluar dan cari spot menikmati indahnya sore hari. Dan stasiun adalah salah satu spot terbaik bagiku di sore hari.

Nulas nulis dan baca- baca buku jadi pilihan karena ternyata menunggu itu asyik sekaligus surga bagi penulis. Menulis bagiku kenikamtan abadi dengan harapan mengabadi menginspirasi banyak orang.

Hari ini emang asyik. Ternyata “lelah” menunggu itu surga. Apapun itu aku bakal nikmatin banyak hal dalam hidup. Hari ini selain membaca aku jugal latihan mengasa ngetik sepuluh jari. Terus yang terpenting menulis itu surga bagi penikmatnya sedang menulis saat sore itu pecandu tinta yang sedang menikmati aksara dan syahdunya sore sekaligus.

Sekian dulu sampai jumpa di

episode tulisan berikutnya:)✌

Solo, Stasiun Puwosari

29 Des 2018

Salam bertumbuh buat sobat semua. Hari ini saya dan tim tahfidz Sekolah Teladan Yogyakarta baru saja melakukan pelatihan pembelajaran Iqro’ dari pagi hingga sore hari dengan mengundang LPTQ AMM Yogyakarta. Sebuah lembaga yang fokus untuk pengajaran Iqro’ dengan metodenya sekaligus banyak melakukan pembinaan dikampung2 dan masjid serta mushalla. Lembaga ini juga memiliki litbang yang langsung dibawahi oleh kementrian Agama sebagai wadah riset dan pengembangan. Litbang ini salah satu outputnya melahirkan terobosan untuk pembelajaran Iqro’ bagi tunarungu dan kaum difabel sejenisnya,

Nahh salah satu pemateri kami adalah pak. Joko yang telah mengajar alias menjadi guru Iqro dikampung halamannya selama belasan hampir puluhan tahun berkiprah di dunia anak- anak TPA ini. Sejak tahun 2002 beliau sudah aktif menjadi guru Iqro’. Dengan kelakar namun menjadi inspirasi tersendiri bagi kami peserta, beliau menuturkan yang kini menjadi lurah, “Pekerjaan saya itu guru Iqro’ nyambi lurah” alias profesi utamanya ialah mengajarkan Al- Qur’an dalam hal ini guru TPA mengajarkan Iqro’ untuk anak- anak.

Tidak hanya menjadikan guru Iqro’ sebagai profesi utama beliau. Pak. Joko pasionable banget sobat dengan dunia pendidikan tersebut. Di tengah- tengah menjelaskan materi pelatihan di selingi kelakar beliau berujar, “jika ditanya seneng mana, nagajar anak- anak atau mahasiswa? Maka saya jawab ya seneng nagajar anak- anak lah, lucu- lucu tidak seperti mahasiswa bikin ruet”. Ini membuktikan betapa beliau amat menikmati dunia pendidikan dengan mengajar.

Sesekali kata beliau juga ada yang menayakan enak jadi lurah apa ngajar anak- anak TPA di kampung, dengan penuh kelakar beliau tegaskan sobat tetep seneng ma anak- anak. Beliau menceritakan betapa lucunya anak- anak di desanya anak yang hebat kalo gak mau ngaji pas pulang dari masjid tepi sawah itu ada bawah ikan dan ini baginya seni “ngulang guru moco iqro’ ten deso” sembari memcah tawa di ruangan dengan bahasa jawa khas beliau bercampur ngapak memcah ruangan jadi tawa dan cair.

Pelatihan kali ini seru banget sobat. Kami bersama tim tahfidz akhirnya mendapat ilmu sekaligus terinspirasi dari Pak. Joko, betapa mengajarkan Iqro’ itu bagian dari pendidikan dan dunia pendidikan. Sarat dengan pengalaman dan pemahaman tentang konsep pendidikan dari beliau, kami peserta pelatihan sangat menikmati pemaparan metode pengajaran Iqro’. Pak. Joko tidak hanya menjelaskan materi melainkan juga merangsang kami untuk bener2 memahami dunia pengajaran yang sesungguhnya. Menggiring kami untuk jadi guru yang cerdas dengan segala pendekatan.

Beliau mengingatkan betapa pentingnya sosok guru, tidak hanya hadir dikelas lalu memberikan materi. “Mengajar adalah seni” tegas beliau.

Pak Joko mengatakan,

Anak- anak cerdas itu hanya butuh sosok guru yang menjadi sahabat mereka, sedang anak- anak yang belum paham itu butuh guru yang hebat dalan memahami dan memberikan pemahaman materi.

Yang terpenting sobat, kali ini kami mendapatkan banyak sekali prinsip- prinsip dunia pendidikan yang bakal jadi bekal kami kedepan untuk terus bertumbuh be a teacher. Tidak hanya sekedar ngajar tapi menjadi sosok sahabat terbaik buat murid dan bisa memahami tanpa harus meminta anak yang memahami. Karena bagi saya sobat, ketika guru itu mau memahami murid dengan latar masalah mereka masing- masing maka yakinilah suatu saat meraka akan paham betapa tulusnya sosok guru yang pernah hadir dan memahamiku dulu.

Just Inspiring today, semoga bermanfaat bagi sobat semua. Cukup dulu ya sobat, next time tunggu aja sapaan berikutnya. Salam inspirasi.





Hy sobat, yuk sekali- kali kita sahring tentang demokrasi. Gak salah kan ya? Soalnya anak muda itu sebaiknya tidak apatis apalagi alergi terhadap politik walau tidak terjun jadi polotik praktis. Hemmm mungkin sebagian sobat ada yang gak setuju:). Yang jelas Indonesia merdeka oleh anak- muda dengan girah dan semangat juang yang tinggi.Tentunya semangat juang yang tinggi ini dibawah bimbingan para cerdik pandai serta ulama yang ada kala itu. Simpelnya, Soekarno muda di usia 28 tahun menjadi presiden yang sebelumnya meminta fatwa resolusi jihad pada Kyia Hasyim Asy’ari. Ini berarti anak muda berpolitik tidak lepas dari bimbingan. 
.
.Kembali, bicara soal demokrasi belakangan ini menurut pengamatan saya bangsa Indonesia mengalami kemuduran. Iya, Indonesia dengan segala cita- cita luhurnya belum bisa berdiri tegak untuk menjaga prinsip- prinsip demokrasi yang pernah diamanahkan oleh foundhing father kita dulu sobat. Mereka menghargai suara bahkan memuliakan pandangan demi sebuah kemaslahatan dan kemerdekaan Negara. Lihatlah panitia sembilan dalam merumuskan konsep dasar negara betapa demokratisnya para pendiri bangsa kala itu. 
.Bungkarno Mengutarakan, 


“Agar demokrasi  yang dibangun diusahakan benar- benar bersifat Indonesia, demokrasi yang lebih berdasarkan mufakat dan tidak ala barat yang memecah belah….”


lahh hari ini sobat, saya denger tuh orang yang maaf kalo saya sebut “gila” diikutsertakan dalam pemilihan umum. Ahh emang lucu ya negeriku kini, selucu- lucunya negeri hingga mereka melihat dari luar terbahak- bahak saat menyaksikan orang “gila” lagi nyoblos dan keluar dari ruang pencoblosan harus berlari lari lalu berteriak,“hihihih negeri lucu, orang sepertiku ikut meggilai negara” Aduhhh apa kata dunia ya sobat..
.
Bebicara tentang demokrasi ialah bicara tentang saling memberi ruang bagi suara seluas- luasnya untuk rakyat. Memberikan keluasan suara bukan berarti kebablasan semua harus bersuara dengan alibi menjunjung demokrasi tapi lupa menggunakan etika demokrasi itu sendiri.  .
.
Kesadaran berbangsa itu artinya mutlak bagi Negara yang dewasa. Indonesia harusnya dewasa dalam mengolah demokrasi dan menjaga suara- suara mereka yang ingin membangun bangsa. Mereka yang kritis melihat realitas bangsa ialah mereka yang peduli untuk sebuah kemajuan bahkan kemaslahatan bangsa. Ehhh malah mereka seringnya dituduh makar, anarkis dan keterlaluan. Owh kapan bangsa ini akan membaik kalau sana sini saling menuding satu sama lain bahkan kehabisan negeri. Untuk itu yuk menangkan demokrasi Indonesia..
.
Cukup dulu ya sobat, next dalam waktu dekat kita bakal sharing lagi. Sedikit bocoran bakal menggali isu terkait kotak suara kardus. Lagi- lagi ada fenomena lucu di negeri ini menjelang pemilu wwkww.

Ya kadang sobat pernah merasakan lelah, jenuh bahkan bosan tiada tara wkwkw. Yaaa apa pu itu, itulah perjalanan.

Jangan bilang,

karenaku sellow. Memang selow, santai. Heheemm tak akan kemanaaaa.

Woy bangun, lelah dan sebagainya bukan alibi buat gak bangun lagi. Saya mah yakin banget buat jadi orang hebat itu harus lebih keras dari pijakan hidup. Tetaplah menjadi manusia hebat dengan segala rintangannya.

Teringat ah resep ahli ilmu ulama- ulama terdahulu. Saat mereka menuliskan tentang rahasia sukses mereka ialah membuat mental mereka lebih keras dari batu. Tidak hanya itu, mereka juga melawan jenuh alias rasa bosan itu sampai jenuh melihat meraka yang bertahan tanpa jenuh.

Hari saya merasakan jenuh namun memilih untuk tetap mengisi hari dengan hal- hal yang bermanfaat. Setidaknya merancang ulang melakukan semua hal dengan baik. Kalo ditanya, capek gak sih? Jawabnya, PASTI dan itu wajar menghampiri saya juga sobat.

Tegas Malcolm Gladwell dalam bukunya, “Grit”,

Anda harus belajar mengatasi rintangan dan kesalahan serta kemunduran. Pujian seharusnya ditujukan kepada orang- orang yang berada di arena, yang wajahnya ternoda oleh debu dan keringat serta darah;…

Seharusnya hal ini yang harus saya dan sobat pahami saat merasakan kelelahan. Karena arena hidup ialah ring perjuangan hingga nantinya layak untuk dibanggakan.

Sekian dulu sobat semoga bisa dilanjutkan pada sesi sharing motivasi mendatang. Salam hangat dari albar:)