“Lelah Menunggu”

Pagi buta itu aku sudah siap dan bergegas menuju stasiun tugu. Ya pagi buta sehabis subuh itu aku ingin berselancar ke Tebuireng sebuah pondok pesantren besar sekaligus salah satu yang tertua milik negeri ini. Misi kesana tidak lain dan tidak bukan adalah misi penelitian. Meneliti bapak pendiri bangsa KH. Wahid Hasyim ayah dari Gus Dur yang pernah menjadi Presiden RI dari kalangan santri (wow ini fenomenal dan pertama dalam sejarah, santri jadi presiden).

Pramex pagipun aku pesan dari jogja ke solo walau sudah memesan tiket dari stasiun puwosari solo ke jombang karena yang di jogja udah ludes habis tiketnya diborong ma rakyat indonesia dalam perhelatan menjelang pergantian tahun wkwkw. Mungkin faktor liburan sobat. Karena dari solo terbilang murah langsung saja saya boking deh. Dannn jam keberangkatan dari solo ternyata jam malam tepatnya pukul 20.32 hahahah. Siap2 dehh lelah menunggu seharian di pangkuan satsiun Purwosari.

Kaena lelah menanti alias nunggu sepanjang hari aku mencoba kuliner sekitar satsiun dan ternyaaaaattaaaa ada ada angkringan londo dengan konsep suasana rumah mewah belanda dan serasa dizaman belanda. Pertigaan depan stasiun kanan jalan angkringan itu mangkal. Suasananya enak dan tentunya seru buat taktik ketik tugas skripsi sembari menyicil dan membaca literature terkait Tebuireng dan sosok tokoh Wahid Hasyim.

Okey karna sudah menjamak qhasar shalatku aku pun mutusin sampe senja. Dan seperti biasa kalo senja tiba aku keluar dan cari spot menikmati indahnya sore hari. Dan stasiun adalah salah satu spot terbaik bagiku di sore hari.

Nulas nulis dan baca- baca buku jadi pilihan karena ternyata menunggu itu asyik sekaligus surga bagi penulis. Menulis bagiku kenikamtan abadi dengan harapan mengabadi menginspirasi banyak orang.

Hari ini emang asyik. Ternyata “lelah” menunggu itu surga. Apapun itu aku bakal nikmatin banyak hal dalam hidup. Hari ini selain membaca aku jugal latihan mengasa ngetik sepuluh jari. Terus yang terpenting menulis itu surga bagi penikmatnya sedang menulis saat sore itu pecandu tinta yang sedang menikmati aksara dan syahdunya sore sekaligus.

Sekian dulu sampai jumpa di

episode tulisan berikutnya:)✌

Solo, Stasiun Puwosari

29 Des 2018

Pak Joko, Guru Iqro “nyambi” dosen dan lurah.

Salam bertumbuh buat sobat semua. Hari ini saya dan tim tahfidz Sekolah Teladan Yogyakarta baru saja melakukan pelatihan pembelajaran Iqro’ dari pagi hingga sore hari dengan mengundang LPTQ AMM Yogyakarta. Sebuah lembaga yang fokus untuk pengajaran Iqro’ dengan metodenya sekaligus banyak melakukan pembinaan dikampung2 dan masjid serta mushalla. Lembaga ini juga memiliki litbang yang langsung dibawahi oleh kementrian Agama sebagai wadah riset dan pengembangan. Litbang ini salah satu outputnya melahirkan terobosan untuk pembelajaran Iqro’ bagi tunarungu dan kaum difabel sejenisnya,

Nahh salah satu pemateri kami adalah pak. Joko yang telah mengajar alias menjadi guru Iqro dikampung halamannya selama belasan hampir puluhan tahun berkiprah di dunia anak- anak TPA ini. Sejak tahun 2002 beliau sudah aktif menjadi guru Iqro’. Dengan kelakar namun menjadi inspirasi tersendiri bagi kami peserta, beliau menuturkan yang kini menjadi lurah, “Pekerjaan saya itu guru Iqro’ nyambi lurah” alias profesi utamanya ialah mengajarkan Al- Qur’an dalam hal ini guru TPA mengajarkan Iqro’ untuk anak- anak.

Tidak hanya menjadikan guru Iqro’ sebagai profesi utama beliau. Pak. Joko pasionable banget sobat dengan dunia pendidikan tersebut. Di tengah- tengah menjelaskan materi pelatihan di selingi kelakar beliau berujar, “jika ditanya seneng mana, nagajar anak- anak atau mahasiswa? Maka saya jawab ya seneng nagajar anak- anak lah, lucu- lucu tidak seperti mahasiswa bikin ruet”. Ini membuktikan betapa beliau amat menikmati dunia pendidikan dengan mengajar.

Sesekali kata beliau juga ada yang menayakan enak jadi lurah apa ngajar anak- anak TPA di kampung, dengan penuh kelakar beliau tegaskan sobat tetep seneng ma anak- anak. Beliau menceritakan betapa lucunya anak- anak di desanya anak yang hebat kalo gak mau ngaji pas pulang dari masjid tepi sawah itu ada bawah ikan dan ini baginya seni “ngulang guru moco iqro’ ten deso” sembari memcah tawa di ruangan dengan bahasa jawa khas beliau bercampur ngapak memcah ruangan jadi tawa dan cair.

Pelatihan kali ini seru banget sobat. Kami bersama tim tahfidz akhirnya mendapat ilmu sekaligus terinspirasi dari Pak. Joko, betapa mengajarkan Iqro’ itu bagian dari pendidikan dan dunia pendidikan. Sarat dengan pengalaman dan pemahaman tentang konsep pendidikan dari beliau, kami peserta pelatihan sangat menikmati pemaparan metode pengajaran Iqro’. Pak. Joko tidak hanya menjelaskan materi melainkan juga merangsang kami untuk bener2 memahami dunia pengajaran yang sesungguhnya. Menggiring kami untuk jadi guru yang cerdas dengan segala pendekatan.

Beliau mengingatkan betapa pentingnya sosok guru, tidak hanya hadir dikelas lalu memberikan materi. “Mengajar adalah seni” tegas beliau.

Pak Joko mengatakan,

Anak- anak cerdas itu hanya butuh sosok guru yang menjadi sahabat mereka, sedang anak- anak yang belum paham itu butuh guru yang hebat dalan memahami dan memberikan pemahaman materi.

Yang terpenting sobat, kali ini kami mendapatkan banyak sekali prinsip- prinsip dunia pendidikan yang bakal jadi bekal kami kedepan untuk terus bertumbuh be a teacher. Tidak hanya sekedar ngajar tapi menjadi sosok sahabat terbaik buat murid dan bisa memahami tanpa harus meminta anak yang memahami. Karena bagi saya sobat, ketika guru itu mau memahami murid dengan latar masalah mereka masing- masing maka yakinilah suatu saat meraka akan paham betapa tulusnya sosok guru yang pernah hadir dan memahamiku dulu.

Just Inspiring today, semoga bermanfaat bagi sobat semua. Cukup dulu ya sobat, next time tunggu aja sapaan berikutnya. Salam inspirasi.

“Menangkan” Demokrasi!





Hy sobat, yuk sekali- kali kita sahring tentang demokrasi. Gak salah kan ya? Soalnya anak muda itu sebaiknya tidak apatis apalagi alergi terhadap politik walau tidak terjun jadi polotik praktis. Hemmm mungkin sebagian sobat ada yang gak setuju:). Yang jelas Indonesia merdeka oleh anak- muda dengan girah dan semangat juang yang tinggi.Tentunya semangat juang yang tinggi ini dibawah bimbingan para cerdik pandai serta ulama yang ada kala itu. Simpelnya, Soekarno muda di usia 28 tahun menjadi presiden yang sebelumnya meminta fatwa resolusi jihad pada Kyia Hasyim Asy’ari. Ini berarti anak muda berpolitik tidak lepas dari bimbingan. 
.
.Kembali, bicara soal demokrasi belakangan ini menurut pengamatan saya bangsa Indonesia mengalami kemuduran. Iya, Indonesia dengan segala cita- cita luhurnya belum bisa berdiri tegak untuk menjaga prinsip- prinsip demokrasi yang pernah diamanahkan oleh foundhing father kita dulu sobat. Mereka menghargai suara bahkan memuliakan pandangan demi sebuah kemaslahatan dan kemerdekaan Negara. Lihatlah panitia sembilan dalam merumuskan konsep dasar negara betapa demokratisnya para pendiri bangsa kala itu. 
.Bungkarno Mengutarakan, 


“Agar demokrasi  yang dibangun diusahakan benar- benar bersifat Indonesia, demokrasi yang lebih berdasarkan mufakat dan tidak ala barat yang memecah belah….”


lahh hari ini sobat, saya denger tuh orang yang maaf kalo saya sebut “gila” diikutsertakan dalam pemilihan umum. Ahh emang lucu ya negeriku kini, selucu- lucunya negeri hingga mereka melihat dari luar terbahak- bahak saat menyaksikan orang “gila” lagi nyoblos dan keluar dari ruang pencoblosan harus berlari lari lalu berteriak,“hihihih negeri lucu, orang sepertiku ikut meggilai negara” Aduhhh apa kata dunia ya sobat..
.
Bebicara tentang demokrasi ialah bicara tentang saling memberi ruang bagi suara seluas- luasnya untuk rakyat. Memberikan keluasan suara bukan berarti kebablasan semua harus bersuara dengan alibi menjunjung demokrasi tapi lupa menggunakan etika demokrasi itu sendiri.  .
.
Kesadaran berbangsa itu artinya mutlak bagi Negara yang dewasa. Indonesia harusnya dewasa dalam mengolah demokrasi dan menjaga suara- suara mereka yang ingin membangun bangsa. Mereka yang kritis melihat realitas bangsa ialah mereka yang peduli untuk sebuah kemajuan bahkan kemaslahatan bangsa. Ehhh malah mereka seringnya dituduh makar, anarkis dan keterlaluan. Owh kapan bangsa ini akan membaik kalau sana sini saling menuding satu sama lain bahkan kehabisan negeri. Untuk itu yuk menangkan demokrasi Indonesia..
.
Cukup dulu ya sobat, next dalam waktu dekat kita bakal sharing lagi. Sedikit bocoran bakal menggali isu terkait kotak suara kardus. Lagi- lagi ada fenomena lucu di negeri ini menjelang pemilu wwkww.

Mengalahkan Jenuh

Ya kadang sobat pernah merasakan lelah, jenuh bahkan bosan tiada tara wkwkw. Yaaa apa pu itu, itulah perjalanan.

Jangan bilang,

karenaku sellow. Memang selow, santai. Heheemm tak akan kemanaaaa.

Woy bangun, lelah dan sebagainya bukan alibi buat gak bangun lagi. Saya mah yakin banget buat jadi orang hebat itu harus lebih keras dari pijakan hidup. Tetaplah menjadi manusia hebat dengan segala rintangannya.

Teringat ah resep ahli ilmu ulama- ulama terdahulu. Saat mereka menuliskan tentang rahasia sukses mereka ialah membuat mental mereka lebih keras dari batu. Tidak hanya itu, mereka juga melawan jenuh alias rasa bosan itu sampai jenuh melihat meraka yang bertahan tanpa jenuh.

Hari saya merasakan jenuh namun memilih untuk tetap mengisi hari dengan hal- hal yang bermanfaat. Setidaknya merancang ulang melakukan semua hal dengan baik. Kalo ditanya, capek gak sih? Jawabnya, PASTI dan itu wajar menghampiri saya juga sobat.

Tegas Malcolm Gladwell dalam bukunya, “Grit”,

Anda harus belajar mengatasi rintangan dan kesalahan serta kemunduran. Pujian seharusnya ditujukan kepada orang- orang yang berada di arena, yang wajahnya ternoda oleh debu dan keringat serta darah;…

Seharusnya hal ini yang harus saya dan sobat pahami saat merasakan kelelahan. Karena arena hidup ialah ring perjuangan hingga nantinya layak untuk dibanggakan.

Sekian dulu sobat semoga bisa dilanjutkan pada sesi sharing motivasi mendatang. Salam hangat dari albar:)

Terjun “Bebaslah” Untuk Sukses


Hallo teman2, ngomongin sukses ternyata sukses gak nyediain payung buat terjun. Terus gimana ya? Entar jatuh bakal sakit bukan. Hemm terus kalo gak mau terjun, kapan ya bakal sukses.

Nah terkadang dalam karier sebagian sobat merasa tidak mengalami perubahan bahkan pengen cepat2 resign dan cari hal baru di luar. Ini gak salah sih, cuman bakal jadi masalah kalo ini hanya pelarian dan nabrak komitmen yang pernah dibuat oleh sobat sebagai janji pada atasan bakal gak resign sebelum waktunya jika ini terkait kontrak kerja.

Sukses itu milik mereka yang terjun bebas tanpa membuat luka untuk orang lain. Right, sebab kepercayaan itu mahal dan paling mahal buat investasi masa depanmu sobat! Harusnya sebelum memutuskan resign, renungkan bisa jadi sobat belum bisa beradaptasi bahkan selama ini “gagal melakukan perubahan”. Cobalah cara yang lebih bebas mengolah potensi agar sukses.

Terlebih dimana tempat kita bekerja adalah sebuah perusahaan kecil masih dalam masa merintis. Ini adalah kesempatan terbaik buat bebasin diri sobat untuk nyiapin tangga kesuksesan dengan cara sobat sendiri. Berpikir besar dan tentukan langkah terbaik yang bisa dilakukan sekarang juga. Ajak mereka yang bisa buat sobat lebih baik lagi lalu kolaborasi dan berikan kejutan dengan semua karya terbaik yang ada. Tentukan target, berlatilah dan mintalah saran sebanyak mungkin pada mereka yang peduli!

Terjun bebaslah untuk sukses sobat, optimis pada masa depan lalu bekerjasamalah dengan banyak orang. Berikan yang terbaik, fokus pada cita- cita dan memegang erat komitmen bersama. Yakinlah dengan menciptakan kebahagiaan untuk banyak orang dan manfaat seluas mungkin maka itulah suksesmu sobat. “If other people happy you will be success”.

Sekian dulu buat sobat semua. Semoga sobat semua sukses. Terjun bebas denga ruang manfaat tak terbatas