Insan Papua Yang Ku Kenal

Jika bicara tentang sejarah dan konflik dalam sejarah bangsa ini penulis adalah generasi milenial. Generasi yang akan bias interpretasi alias penafsiran sejarah dengan kemungkinan besar akan salah. Penulis bukanlah pelaku sejarah bukan juga saksi penuturan sejarah langsung dari pelaku sejarah. Alangkah jauh jarak penulis sebagai generasi baru dalam membaca sejarah. Namun kali ini penulis hanya ingin mengeja sejarah sebuah upaya mencintai bangsa dalam mengisi peristiwa dan langkah kedepan dalam ekspresi cinta tanah air.

Mencintai tanah air harusnya juga mencintai saudara setanah air kita yang nun jauh disana. Saudara kita di Papua yang kini hangat jadi perbincangan seantero negeri. Penulis tidak akan menilik upaya penyelesaian konflik yang terjadi. Secara ringan akan menguraikan ejaan sejarah dengan menceritakan pengalaman penulis tentang Papua yang penulis kenal.

Berkesempatan mengunjungi Timor Leste sungguh telah membuka cakrawala baru penulis tentang manusia yang kita kenal denga rasa dan warna kulit yang berbeda. Banyak cerita tentunya namun persahabatan dengan mereka adalah warna baru dalam hidup. Akhirnya penulis mencoba mendalami mereka lebih dalam dan mengeja sejarah kenapa ada wilayah yang bisa lepas dari pangkuan sejarah Ibu Pertiwi.

Penulis temukan dalam ejaan sejarah sederhana ternyata saudara kita di Timor Leste mengalami dua kali proklamasi atau dua kali merdeka dan mereka sejatinya adalah negara sendiri yang pernah ikut dalam pangkuan NKRI namun apalah daya mereka harus lepas dari pangkuan itu dalam takdir sejarah. Setelah membaca sejarah Timor Leste ini secara perlahan akhirnya sekembalinya penulis ketanah air menjadikan ini tema diskusi tentang Papua dengan sahabat-sahabat Papua yang penulis kenal.

Ternyata sedikit pengetahuan didapati Papua memiliki perjanjian lama tentang Papua itu pernah berdiri sebagai bangsa yang juga akhirnya ikut dalam pangkuan NKRI, kita kenal dengan sebutan negara Koloni Hindia-Belanda di masa awal- awal kemerdekan. Lalu pernah juga menelaah dengan segala kekayaan dan banyaknya bahasa dalam suku- suku Papua berjumlahkan ratusan terbayangkan betapa besar Papua dibenak penulis, namun perlu diingat dengan kekayaan dan kebasaran Papua dalam hati penulis kaget dan kagum betapa mereka sudah mencintai bahasa tanah air Indonesia sejak sebelum kemerdekaan di tahun 1926 mengadopsi bahasa melayu sebagai bahasa pengantar mereka. Penulis merasakan sendiri pernah lahir ditanah melayu betapa sahabat Papua kita itu fasih berbahasa melayu. Ironi rasaya jika melabeli mereka yang tidak- tidak jika dalam ejaan sejarah ditemukan mereka telah memeluk ibu pertiwi dengan eratnya.

Ini sedikit ejaan sejarah penulis, dengan alamiah juga penulis ditakdirkan bersahabat dengan mereka bangsa “kulit hitam” dalam pangkua NKRI. Penulis memiliki abang angkat dari Papua yang dalam kurun waktu satu tahun ini telah asyik menjadi sahabat diskusi sekaligus teman seperjuangan dalam tanah rantauan untuk sama- sama menyelesaikan studi akhir. Tanah Jawa ini jadi saksi bisu persahabatan kami berdua. Sebutan Pace akrab penulis sapa abang angkat satu ini. Putra Papua sederhana bersahaja dalam bersahabat yang pernah penulis temui. Diskusi kami berdua saat lelah menyelesaikan tugas akhir diwaktu istrahat dengan santai mengisi pembicaraan berbobot, ada kelakar dan penuh nutrisi tentunya. Kami berdua bertukar pikiran tentang banyak hal dari sejarah tanah air, diskusi buku, bertukar bacaan, menelaah bersama novel berbobot tinggi hingga sampai telaah masalah Papua belakangan ini.

Penulis bersyukur memiliki sahabat sekaligus abang alias Pace dari Papua, dengan bersahaja tetap menginspirasi sampai detik ini menuliskan sedikit yang bisa dibagikan. Terbantahkanlah anggapan kurang tepat bahwa masyarakat Papua masih memiliki tingkat SDM rendah, data seakurat apapun ini masih bisa dipedebatkan. Sejak 1926 mencintai bahasa Indonesia ini menandakan di dada mereka masih menyala bara ibu pertiwi akan semangat nasionalisme pada negeri tercinta nan kaya ini.

Papua yang penulis kenal ialah insan bersahaja tidak boleh dipandang sebelah mata. Pace satu ini sangat tertarik dengan dunia sejarah karena penulis pernah bilang sejarah teramat penting. Sautu hari kami berdua akhirnya pernah bedah buku sebuah novel yang ditulis oleh novelis terbaik yang penrah penulis temukan. Novel Bumi Cinta karya Kang Abik (Habiburrahman El Sirazy) ini membuka cakrawala kami berdua betapa besar konflik dibawa kepemimpinan Lenin dan Stalin dalam membantai masyarakat Eropa dengan bengisnya melalui gerakan komunisme awal- awal abad itu melakuakn pembantaian puluhan juta nayawa harus bermandikan darah. Hingga peristiwa pembantai PKI di Indonesia yang tak kalah menyeramkan dengan penuh biadab umat manusia dibuh dan dan disembelih tanpa ampun terutama para kiai- kiai sebagai tokoh agama.

Kami berdua sepakat betapa pentingnya sejarah harus diungkapkan agar tak ada lagi nyawa yang hinga sebab kami berdua pahami membunuh satu nyawa itu sama membunuh manusi sejagad. Dalam hati kecil penulis dan abang angkat asal Papua ini tentu tak ingin bila konflik di negeri ini terjadi. Sungguh teriakan hati kecil tidak rela tingkah kebiadaban harus terjadi.

Ini lah sedikit bobot diskusi dengan abang angkat orang Papua pengalaman penulis alami. Tolong jangan labeli saudara kita ini dengan stigma negatif! Ini permintaan pribadi penulis melalui tulisan kali ini. Dari akar rumput sejarah ternyata Papua sudah merangkul kita dari ras melayu secara keseluruhan Indonesia. Sejak dulu mereka mencintai negeri ini dalam ejaan sejarah. Papua butuh cinta, “gitu aja kok repot” kelakar Gus Dur dalam satu kesempatan mengunjungi Papua. Penulis juga ingin rasanya berselancar mengitari seluruh jengkal tanah Papua untuk hari mendatang. Akhir tulisan ini semoga membuka cakrawala baru tentang Papuan yang penulis kenal dan kita kenal bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *