Menjaga Asa Menggenggam Pena

Karya itu memang terkadang tak tampak kini. Kita harus menjadi manusia yang kadang harus lebih sepi dari manusia lain. Sepi dalam arti luas betapa banyak hal yang harus di pikirkan. Terkadang pena itupun memanggil kita dalam lakon menggoreskan semua pikiran. Narasi dan perjuangan tak boleh dipisahkan.

Cakrawala angkasa menangkap semua pesan apa yang dituliskan oleh sang pena. Begitulah aku melihat awan selalu ada lukisan indah yang terbentuk. Menyirat pesan akan semua yang ada haruslah di lukiskan dan tertuang dalam aksara cakrawala, seolah menarikan pena diatas putihnya secarik kertas seperti awan itu perlu ada kata dan kalimat yang terangkai. Kertas dihujani dengan tinta bak awan putih itu.

Sungguh pekerjaan paling mulia ialah meninggalkan warisan ilmu pengetahuan. Berjalanlah diatas tenda biru sembari memilu memegang pena dalam suka dan duka. Rangkailah setiap peristiwa untuk kau wariskan, tuangkan pikiran dan gagasanmu hingga kelak kau dikenal sepanjang masa.

Betapa banyak kata yang ingin aku ungkapkan bahwa yang pikiran haruslah melahirkan ide, yang melihat tinta haruslah menggores pena.

Bukankah Shakespear itu menulis 38 drama monumental hingga ia dikenal sejagat raya sebagai penulis Inggris terbaik. Di masa itu jangankan komputer bahkan mesin tik pun tak ditemukan. Dia telah berjuang diatas kertas dengan penanya bukan?

Begitu pula dengan “Indonesia Menggugat” Sudah diterjemahkan dalam 40 Bahasa. Soekarno dinobatkan sebagai bapak Revolusi lalu pikiran dan gagasannya menginspirasi dunia. Ini semua terjadi karena Soekarno bernai menuliskan gagasan dan pikirannya.

Pun dengan RA Kartini betapa ia menulis dan menyalakan semangat perjuangan hingga terbitlah terangnya kegelapan akibat kebodohan. Surat- surat yang ditulis Kartini telah menjadikannya ibu sepanjang masa bagi bangsanya. Inilah akibat dari sebuah tulisan.

Untuknya mari mulai menulis dengan menjaga asa dan menggenggam pena dalam karya. Karya memang luas arti dan maknanya tidak melulu menulis. Jika berani berkarya maka bersiaplah untuk menuliskan nama didinding sejarah yang akan mengabadi sebagai warisan untuk generasi mendatang.

Tetaplah menjaga asa dan menggenggam pena karena dengannya kau akan tau betapa menulis adalah hal paling mengasyikan dalam kesendirian. Menulis membuat candu positif bagi penikmatnya mengalahkan candu kafein berton- ton jumlahnya.

Menulis lah hingga akhir hayatmu kelak. Biar dunia menyadari betapa kita pernah berpijak dibuminya. Mengabadikan warisan terbaik ialah dengan warisan ilmu pengetahuan bukan? Semoga segala kerendahan hati dan kesederhanaan sikap kita semua selalu dibimbing dan dikuatkan oleh Ilahi untuk menggoreskan pena selalu. Sekian dari penulis moga membawa manfaat:)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *