Negeriku “Takut” perang gagasan, hello PILPRES

Sebelum nulis terkait isu ini, penulis rasanya ingin berterimakasih sama Evan Williams selaku penemu blog, twiter dan sebangsa medsos gandrungan anak muda zaman now yang hingga kini masih bisa dinikmati. Khusunya bagi kaum “pecandu” aksara seperti penulis. Lewat dinding ini penulis bisa bebas bersuara tanpa harus ribet di kirim ke media dengan proses panjang. Disini hanya menuliskan pikiran dan seketika langsung bisa diterbitkan tanpa ribet.

Kembali ke laptop, ditahun ini banyak pakar menyebutnya sebagai tahun politik. Para pakar menyebutnya demikian bukan tanpa alasan, salah satu alasan terkuat ialah melihat realitas rakyat Indonesia sepertinya belum dewasa dalam sikap politik walau secara positif anak- anak muda negeri ini sudah banyak yang mengambil peran di panggung politik dan sebagian besar anak muda juga tidak apolitis alias apatis sama fenomena politik atau bahasa kerennya melek politik.

Dari semangat melek politik inilah penulis mencoba menguraikan sebuah pikiran tentang kegelisaan sebagai anak muda akan miskinnya gagasan yang akan menimpa negeri ini. Yuk kita masuk pada spesifik tentang pilpres! Netizen sudah mendengar akan berlangsung depat Capres dan Cawapres dalam waktu dekat ehh ternyata gak jadi karena lain dan berbagai hal.

Fenomena ini menjadikan penulis melihat satu permasalahan bangsa yang begitu fatal dan akan menjadi racun bagi anak negeri. Ada ketakutan untuk adu gagasan yang mana seorang pemimpin atau calon pemimpin mutlak harus memilikinya. Negeri ini merdeka, berdiri sebagai bangsa hingga terbentuk satu kesatuan yang kita kenal dengan NKRI. Adalah Bung. Karno sang proklamator kemerdekaan, dialah Bung. Natsir atau dikenal M. Natsir tokoh sekaligus cendikiawan muslim perumus mosi integral sebagai cikal bakal bersatunya Indonesia (NKRI) dari Sabang sampai Maraoke. Kedua tokoh ini sering perang gagasan dan perang gagasan ini tidak menghalangi sebuah perubahan besar terjadi pada negeri, lalu sejarah pun mencatat perang gagasan mereka yang berbobot peletak batu kemerdekaan.

Sejatinya banyak lagi tokoh- tokoh politik bangsa kala itu memiliki gagasan brilian yang terus berkecamuk hingga terjadilah perumusan sebuah dasar negara yang besar, mengahargai jasa pahlawan, bermartabat, bermoral dan memiliki cita- cita besar pada perdamain dunia dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini adalah gagasan harga mati dari pergolakan gagasan- gagasan luar biasa. Sebut saja tokoh, para alim, cerdik pandai negeri ini; KH. Wahid Hasyim, Hatta, Ki Bagus Hadi Kusuma, Kartosuwiryo, Sahrir dan tokoh pendiri lainnya.

Semua tokoh diatas adalah pemimpin sekaligus pendidik gagasan. Lahhh kenapa hari ini takut menampilkan ke publik untuk Capres dan Cawapresnya menguraikan gagasan? Apa salahnya kalo mereka perang gagasan? Bukankah ini lebih bermartabat dari hanya sekedar cuitan lewat medsos dan terlihat tanpa akhir?

Semoga pihak yang berwenang memperhatikan hal ini. Betepa pentingnya gagasan dan pertarungan gagasan sebagai benih menumbuhkan harapan peradaban. Harapan peradaban ini tidak hanya untuk bangsa melainkan juga untuk dunia.

Tulisan sederhana ini sejatinya surat terbuka untuk semua elite politik Bangsa Besar Republik Indonesia, termasuk pihak penyelenggara pesta demokrasi dan terkhusus bagi pasangan kedua paslon 01 dan 02 sebagai kandidat- kandidat kuat untuk memimpin negeri yang besar ini.

Sekian dari penulis, pecandu aksar lagi melek politik. Menjadi perhatian karna pecandu aksara juga punya hak mencintai negeri ini dari segala aspek dan bidangnya, salam sukses hangat dari penulis.

Yogyakarta, Masjid Syuhada
08 Januari 2019

(A. R)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *